MANUSA YAJNA
1. FUNGSI DAN TUJUAN YADNYA
Menurut Prof.Dr.R.B.Pandey,didalam bukunya yang terkenal ,Hindu samskara,Beliau mengemukakan beberapa aspek tujuan samskara yang dapat kita perbandingkan dengan tujuan yadnya.Adapun tujuan samskara ada empat hal pokok,yaitu :
Sifat popular (UMUM) & supertisi (kepercayaan):
- Melenyapkan pengaruh yang kurang baik.
- Mengundang atau menambahkan pengaruh-pengaruh yang baik dan memberikan kekuatan.
- Untuk memperoleh tujuan hidup sekala niskala.
- Sebagai pernyataan umum yang dimaksud menurut tujuan upacara itu sendiri.
Sebagai pembina Moral (Budhi Pakerti):
Yadnya juga bertujuan untuk pembinaan moral,misalnya tidak hanya untuk penyucian jasmani dan batin tetapi juga untuk mengembangkan sifat-sifat sebagai berikut :
- Sifat pengampunan dan welas asih
- Sifat tahan uji.
- Sifat bebas dari iri hati.
- Sifat-sifat yang membina kesucian rohani
- Sifat-sifat wajar dan tenang dalam menghadapi segala cobaan selama hidup di dunia
- Membatasi sifat-sifat yang liberal,suka berdana punia dan tidak loba atau rakus
Bertujuan Untuk pengembangan kepribadian:
Salah satu tujuan untuk membina kepribadian yang mandiri,ini berarti adanya mengandung arti mendidik dan membudayakan tingkah laku manusia agar tercipta suasana kesucian penuh dengan toleransi dan kebijaksanaan.
Bertujuan Untuk spiritual:
Yadnya juga mengandung pengertian untuk tujuan spiritual atau kerohanian.ini dapat kita lihat dari penggunaan berbagai alat upacara itu.yadnya adalah suatu latihan yang dialami seseorang dalam dunia spirituallisme.ini memerlukan pengertian yang mendalam tentang sakramen atau segala sarana upakara dalam ber-nyadnya.tanpa kesucian yadnya tidak akan pernah berhasil.
Jika kita dididik untuk selalu belajar hidup suci.suci dalam arti lahir batin,ucapan,pikiran,dan perbuatan.
demikanlah beberapa hal mengenai arti,fungsi dan tujuan yadnya yang harus bertitik tolak dari pemahaman itu kita dapat lebih memahami sistem yadnya yang diajarkan oleh agama hindu.semua hal,baik itu berupa pengertian,penghayatan dan pengalaman ajaran agama sangat penting dalam praktek pelaksanaan hidup sehari-hari.
Berdasarkan pengertian itu maka fungsi yadnya adalah sebagai lembaga ritual dan bertujuan untuk melakukan pemujaan kepada Tuhan YME secara lagsung ataupun tidak langsung.yakni juga sebagai upaya penyucian diri dan alam semesta(BHUWANA ALIT DAN BHUWANA AGUNG).yadnya sebagai ekspresi pikiran berbentuk budaya.
A. TUJUAN POKOK DARI YADNYA ADALAH :
1.Untuk menyebarluaskan ajaran Weda.
2.Sebagai suatu sarana menyebrangkan sang atman menuju parama atman untuk mencapai moksa.
3.Sebagai sarana untuk menciptakan suasana kesucian dan penebusan dosa-dosa selama didunia.
4.Sebagai sarana untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan YME.
5.Sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan.
6.Sebagai sarana untuk mendidik yang bersifat praktis tata laku pengalaman ajaran agama.
B. DASAR HUKUM YADNYA:
Apakah dasarnya,mengapa pelaksanaan yadnya itu bersifat wajib? siapakah yang harus melakukannya? dan kedudukan apa ia melakukan yadnya itu?
semua macam pertanyaan ini timbul dalam diri kita. lebih-lebih kalau dinyatakan bahwa faktor umur, sosial,ekonomi,kondisi lingkungan yang tidak sama,waktu serta letak geografi semuanya sangat berpengaruh pada pelaksanaan dan kemungkinan dapat tidaknya niatnya itu dijalankan. demikian pula latar belakang budaya,pengetahuan filsafat dan pendidikan,semua ikut berperan mempengaruhi pelaksanaannya.karena itu perlu kita memahami latar belakang dan motivasinya agar dapat diamalkan dengan tepat dan benar.
agama hindu diwahyukan pada masyarakat nomad,masyakarat agraris dan harus berjuang melawan alam.kekerasan dan kekejaman alam serta penderitaan sebagai akibat dari kondisi alam yang serba ganas dan liar,menyebabkan agar dapat tercapainya rasa aman,sejahtera lahir batin,bahagia dan rasa berkeadilan.
catur purusa artha yaitu:Dharma,Artha,
inspirasi yadnya yang merupakan "wahyu" yang dijadikan landasan utama dalam pencapaian tujuan itu.di dalam Rg Weda,Mandala X,kita mendapatkan dua sukta yang amat penting yaitu nasadiya sukta dan purusa sukta.kedua sukta inilah yang menjadi dasar utama ajaran yadnya.adapun arti yadnya yang kita jumpai di dalam weda lainnya merupakan pengertian ulangan dari yadnya yang semula terdapat dalam Rg weda.hanya saja semua lebih disempurnakan dan diperluas pengertiannya.
alam semesta ini timbul atau diciptakan melalui proses yadnya dan dipelihara pula melalui pelaksanaan yadnya.artinya tanpa yadnya akan tidak akan ada ciptaan dan tanpa yadnya alam semesta ini akan mengalami kehancuran luar biasa.karena itu harus tetap ditegaskan dalam satu keseimbangan melalui jalan ber-yadnya.
apa yang kita jumpai pada zaman berikutnya adalah perubahan pengertian yadnya kedalam bentuk mistik atau pedoman.ini tidak dapat dielakkan karena kemampuan manusia jauh berbeda dari zaman sebelumnya.untuk itu pelaksanaannya memerlukan cara yang lebih mudah dan disesuaikan menurut kemampuan.
C.) LATAR BELAKANG YADNYA.
Semua perbuatan tentu memiliki tujuan.tanpa adanya suatu tujuan,semua perbuatan ibarat sebuah perahu tanpa kendali,sehingga terombang-ambing tak menentu.beghitu pula dalam hal kita ber-yadnya,tentu lah memiliki tujuan yang pasti,yakni dalam rangka menuju kelepasan.didalam manamwa dharmasastra VI.35. disebutkan bahwa pikiran(manas) baru dapat ditujukan kepada kelepasan setelah 3 hutang kita terbayar.3 hutang dalam bahasa sanskerta disebut TRI RNAM,terdiri dari huutang kepada TUHAN yang disebut DEWA RNAM,hutang kepada leluhur disebut PITRA RNAM,hutang kepada para Rsi disebut RSI RNAM.
- DEWA RNAM yaitu kesadaran berhutang kepada TUHAN atas yadnya Beliau kepada umat manusia dan alam semesta ini.PITRA RNAm adalah kesadaran berhutang kepada orang tua,dan para leluhur atas jasanya yang telah beryadnya menurunkan,memelihara,dan mendidik kita dari sejak dalam kandungan sampai kita bisa mendiri.RSI RNAM adalah kesadaran berhutang kepada para Rsi atau orang-orang suci yang telah beryadnya menyebarluaskan ilmu.yakni pengetahuan suci WEDA yang diolah,disusun sedemikian rupa menjadi kitab-kitab sastra agama,sehingga umat lebih mudah memahaminya.
dan dengan demikian,hanya orang-orang yang bermorallah yang sadar atau merasa memiliki ketiga jenis hutang tersebut.orang tak merasa punya hutang tersebut tidak mau memenuhi kewajibannya membayar,tentu akan tenggelam dalam lembah kesengsaraan.Didalam BHAGAWADGITA.III.10.12.13 disebutkan,RNAM (hutang) itu muncul justru kerna telah melakukan yadnya.sabda agung itu berbunyi :
SAHAYAJNAH PRAJAH SRISTWAH
PURO"WACA PRAJAPATIH",
ANENA PRASAWISYA DHIVAM,
ESA WO "STWISTA KAMADHUK".
ARTINYA:
Pada zaman dahulu kala prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda.dengan ini Engkau akan berkembang biak dan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.
ISTAN BHOGAN HI WO DWA,
DASYANTE YAJNA BHAWITAH,
TAIR DATTAN APRADHAYAIBHYO,
YO BHUNKTE STENA EWA SAH.
ARTINYA:
sesungguhnya keinginan untuk mendapat kesenangan telah diberikan kepadamu oleh para dewa-dewa karena yadnya-mu,sedangkan Ia yang telah memperoleh kesenangan tanpa memberi yadnya sesungguhnya adalah pencuri.
YAJNA SISTHASINAH SANTO,
MUCUANTE SARWA KILBISAIH,
BUNJATE TE TWAGHAM PAPA,
YE PANCATYH ATMANKARANAT.
ARTINYA:
Ia yang memakan sisa yadnya akan terlepas dari segala dosa,tetapi Ia yang hanya memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri,sesungguhnya mereka itu memakkan dosanya sendiri.
Ayah dan Ibu yang melahirkan anaknya juga didasari atas yadnya,demikian pula dengan kehidupan para RSI-Rsi yang mengembangkan dan menyebarluaskan sabda suci TUHAn berdasarkan ajaran yadnya.jadi seperti yang telah disinggung,ari ketiga jens yadnya itulah yang akan menimbulkan ajaran TRI RNAM untuk membayar ketiga jenis hutang tersebut,kita kemudian diarahkan untuk melaksanakan panen yadnya.DEWA RNAM dibayar dengan mengadakan DEWA YADNYA dan BHUTA YADNYA,yaitu beryadnya kepada TUHAn dan kepada alam ciptaanNYA.PITRA RNAM mengadakan PTRA YADNYA dan MANUSA YADNYA.RSI RNAM dibayar dengan RSI YADNYA.
jadi,menurut pengertian ini,PANCA YADNYA sesungguhnya dilaksanakan dengan tujuan untuk membayar hutang itu dibayar dengan yadnya,barulah pikiran diarahkan untuk mendapatkan kebesbasan abadi dan kelepasan.
D.) KUALITAS YADNYA:
Keutamaan & kesucian yadnya atau persembahan bukanlah diukur dari besar dan megahnya suatu persembahan,melainkan dilandasi kesadaran dan ketulus iklasan yang didasari kesucian hati.kitab BHAGAWADGITA menyebutkan ada 3 tingkatan yadnya dilihat dari kulitas TRI GUNA yang melandasi pelaksanaan yadnya tersebut,yaitu:
a. Satmika yadnya adalah yadnya yang dilaksanakankarena kewajiban dan dilandasi dengan ketulus ikhlasan.
b. Pelaksanaan(kegiatan,bhakti,cinta kasih,ketulisikhlasan(lancanyang manah),etika).
c. media/jalanan:kitab suci WEDA,ITIHASA,PURANA dan SASTRA-SASTRA AGAMA,pengertian,pemahaman,penghayatan dan kebijaksanaan tatwa.
d. tujuan/harapan yaitu kebebasan yang abadi (kerahajengan sekala-niskala).MOKSARTHAM JAGADHITA YA CA ITI DHARMA.
untuk memantapkan sradha tersebut umat hindu mengawalkannya berdasarkan petunjuk ATHANWA WEDA.XII.1.1 yaitu dengan memantapkan keyakinan pada melakukan penyucian diri (DIKSA) pengendalian diri terhadap nafsu duniawi (TAPA).selalu berdoa memohon pencerahan (BRAHMAN).Dan melakukan korban suci untuk keselamatan dan kebahagiaan makhluk (yadnya).Aktualisasi pengamalan bersifat relatif sesuai desa-kala,tatwa (tempat,waktu,dan sastra),sehingga tidak mengakibatkan terjadinya benturan/disharmoni,baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat heterogen (bhineka) ini agar pengamalannya tidak menyimpang (sesat) dari ajaran WEDA maka perlu dipedomi ajaran 'DHARMA SIDDHYANTHA' sebagaimana tercantum didalam WEDA SMRTI.VII.10 yang memuat lima aspek yang dijadikan pertimbangan dalam menuangkan konsep ataupun bentuk amalan yang akan dilaksanakan,yaitu:
1.) IKSA adalah hakekat tujuan dari suatu kegiatan yang akan dilaksanakan hendaknya harus dipahami dan disosialisasikan agar tidak terjadi salah penafsiran diantara sesama umat.
2.) SHAKTI adalah kesadaran yg tinggi yang muncul dari hati dan mempunyai kemampuan pemikiran dan fisik materiil untuk mendukung suatu kegiatan yang akan dilaksanakan.
3.) DESA adalah tempat suatu kegiatan/lingkungan yang kondusif,yang dapat memperlancar suatu kegiatan yang akan dilaksanakan.
4.) KALA adalah waktu/massa didalam melaksanakan suatu kegiatan,hendaknya harus diperhitungkan dengan cermat,agar dapat memperlancar suatu kegiatan yang akan kita laksanakan.kala juga dapat diartikan sebagai tenaga (power),hendaknya tenaga/kekuatan yang akan kita miliki hendaknya juga harus dikaji dengan baik,agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi kendala-kendala yang tidak diingini.
5.) tattwa adalah dasar keyakinan/falsafah yang bersumber dari nilai suci weda.segala sesuatu yang kita laksanakan hendaknya selalu dilandasi dengan sastra-sastra agama yang kita yakini,bukan dilandasi dengan "GUGON KUYON".
segala sesuatu yangakan kita lakukan yang berhubungan dengan yadnya-yadnya hendaknya didasari denga sastra-sastra agama agar tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama dan disertai dengan meningkatkan pengertian dan pemahaman kita aka makna dan tujuan yadnya atau segala kegiatan yang kita laksanakan.dengan mantapnya keyakinan kita terhadap ajaran agama pasti akan menghantarkan kita pada tujuan yang akan kita harapkan,yaitu kesejahteraan baik lahir-batin,sekala-niskala.
MANUSA YADNYA
1.) PENGERTIAN MANUSA YADNYA
MANUSA YADNYA adalah suatu korban suci atau pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.Didalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah tempat,keadaan dan waktu sangat penting.secara umum upacara ini dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan.Hal ini dilatar belaakangi oleh adanya suatu anggapanbahwa pada saat itulah seorang anak dalam keadaan kritis,sehingga perlu dilaksanakan suatu upacara atau selamatan.Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan,kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan sehari-hari didalam bermasyarakat.
2.) TUJUAN MANUSA YADNYA.
Tujuan dari Manusa Yadnya atau sarira samskara adalah untuk menyucikan diri,baik yang bersifat lahir dan batin (pamarisuddha angga sarira) dan memohon keselamatan dalam upaya peningkatan kehidupan spritual menuju kebahagiaan didunia maupun di alam niskala.
3.) JENIS UPACARA MANUSA YADNYA.
JENISnya yaitu: EKA DASA DIKSA DIKSITANING MANUSA (sebelas tahapan samskara dalam manusa yadnya)
a. UPACARA MAGEDONG-GEDONGAN (GARBHA SAMSKARA)
B. UPACARA KELAHIRAN (JATAKARMA SAMSKARA)
C. UPACARA KEPUS PUSER (PUTUSNYA TALI PUSER)
D. UPACARA TUTUG KAMBUHAN (42 HARI)
E. UPACARA NYAMBUTIN/NIGANG SASIHIN (NISKRAMANA SAMSKARA)
F. UPACARA PAWETONAN (210 HARI)
G. UPACARA TUMBUH GIGI (NGEMPUGIN)
H. UPACARA TANGGAL GIGI (MAKUPAK)
I. UPACARA MUNGGUH DAHA (NGRAJA SWALA DAN NGRAJA SINGHA)
J. UPACARA PERKAWINAN (WIWAHA SAMSKARA)
K. UPACARA PAWINTENAN UTAWI DWIJATI (MADIKSA)
Dari sebelas macam diksa (samskara),ada 3 poin yang terpenting dalam tatanan Manusa Yadnya,yaitu:
Upacara nigang sasihin/nyambutin (Niskrawana samskara),sebagai upacara menyambut kehadiran suatu kehidupan pada sibayi,karena pada saat janin berumur tiga bulan pada saat itulah janin dimasuki ole roh (Atman), dan memberikan nama sibayi.Kedua upacara mungguh peha (ngraja swaha),yang ketiga mudiksa (Dwijati).Samskara adalah merupakan penyucian diri untuk dapat meningkatkan kualitas diri dalam menata kehidupan ini,dari perilaku anak-anak menjadi remaja,dari remaja menjadi perilaku dewasa,dari perilaku dewasa menjadi perilaku yang penuh kebijaksanaan.
Dwijati bukan milik satu golongan saja,semua umat hindu wajib melaksanakan samskara dwijati (Abhodgala), sebagai tahapan terakhir didalam proses upacara dalam kehidupan,sebagai jalan peningkatan kulitas diri menuju suatu kesucian. Maka dari itu apabila umat hindu belum melaksanakan upacara atiwa-atiwa atau Pitra Yadnya.Dengan tujuan agar SANG HYANG ATMAN dapat terlepas dari ikatan "papa klesa" yang membelenggunya dan diharapkan SANG HYANG ATMAN dapat kembali menyatu denagn SANG HYANG PARAMATMAN (TUHAN YANG MAHA ESA).
Dari semua upacara tersebut pada hakekatnya bertujuan untuk menyucikan diri,agar dapat terlepas dari kehidupan samskara, dan dapat menjadi orang bijaksana dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa serta,kepada ibu bapak dan kepada sesama umat manusia dan makhluk penghuni alam semesta ini.
TATANING UPAKARA MANUSA YADNYA
A. NIHAN UPAKARA PAGEDONG-GEDONGAN (GARBHA-SAMSKARA)
Upacara pagedong-gedongan (garbha samskara) dilaksanakan pada saat kandungan sudah berumur 3 bulan dan selambat-lambatnya pada saat kandungan berumur 7 bulan, upacara ini dilaksanakan bertujuan untuk menyucikan janin dalam kandungan, agar nantinya terlahir anak yang SUPUTRA. Upacara Pagedong-gedongan dilaksanakan setiap terjadinya suatu kehamilan pada saat si Ibu.
Tentang Tatanan upacara dan upakaranya,sebagai berikut:
PALET I: SOROHAN BANTEN PANGRESIKAN
1. Banten bayakoan.
2. Banten Tatebasan prayascitta.
3. Banten Tatebasan Durmanggala.
4. Banten Lis Amu-amuan utawi Lis Bale Gading.
5. Banten Pangulapan.
6. Panglukatan sang mobot muncuk don mingin,muncuk don Bunut bulu,muncuk don sulasih,sekar tunjung katut daun,padha telung muncuk.
PALET II: SOROHAN BANTEN UPASAKSI RING SANGGAR SURYA.
1. Daksina Alit akehne kalih soroh.
2. Suci asoroh maulan bebek.
3. Banten Ajuman/Rayunan Putih Kuning.
4. Banten Peras asoroh,Penyeneng Alit.
5. Ketipat Kelanan,Canang,Pasucian.
6. canagi dena jangkep.
7. KALUNGAH nYUH Gading Kinasturi akehne asiki.
PALET III: SOROHAN BANTEN MUNGGAH RING KAMULAN
1. Daksina Alit akehne kalih soroh.
2. Suci asoroh maulam bebek.
3. Banten Ajuman/Rayunan asoroh
4. Banten Peras Gede utawi Peras Alit.
5. Penyeneng Alit, Katipat Kelanan.
6. Canang,Pesucian, saha caniga dena jangkep.
PALET IV: SOROHAN BANTEN AYABAN
1. Daksina saha Suci asoroh.
2. Banten Pejati asoroh.
3. Banten ayaban Tumpeng Siya utawi abungkkul.
4. Banten Sesayut Tulus Dadi.
5. Banten Sesayut Ktututan.
6. Banten Sesayut Pamahayu Tuwuh.
7. Banten Pangladan Dedari.
8. Banten Pagedong-gedongan matah.
9. Banten Pagedong-gedongan.
PALET V: SOROHAN BANTEN RING PASIRAMAN
1. Banten Pejati asoroh.
2. Nasi Wong-wongan asoroh.
3. Segehan warna
4. Payuk medaging toya anyar miwah sekar sane mawarna pitung warna.
PALET VI: SOROHAN BANTEN PENYANGGRA.
1. Banten ring ajeng sang muput.
2. Banten Panuwuran sang muput.
3. Banten Panuwuran tukang putru
4. Banten Arepan tukang putru.
PALET VII: INDIK TATANING TETANDINGAN
BANTEN PAGEDONG-GEDONGAN.
Banten Pagedong-gedongan masarana antuk bale pagedong-gedongan,masarana antuk daun rontal,taler wenten sane mekarya bale pagedong-gedongan sekadi kawentenan bale Gading.Ring sajroning Bale Pagedong-gedongan punika medaging:
1. Kalungah nyuh Gading megambar rare,masurat antuk aksara Ongkara.
2. Laklak tape aceper.
3. Isin ceraken (basan ubad).
4. Rerujakan.
5. Lindung saha ulam mas,makaput antuk don kumbang.
6. Buluh Tiying Gading matemos.
7. Nyahnyah Gringsing.
8 Carang dapdap macanggah tiga.
9. Benang selem pinaka panuntun.
10. Bale pagedong-gedongan nyane medaging canggah tuwun bilang sampin,ring luhur nyane medaging Padma.
TETANDINGAN BANTEN PAGEDON-GEDONGAN MATAH
(PINAKA PANGEMITING MANIK RING SAJRONING GARBHA)
Medasar antuk paso,medaging beras,kelapa,benang putih,ketan,injin,pisang matah,sudang,tingkih,pangi bija ratus,gegantusan,pelawa pesel-peselan,base tempelan,tingkah tetandingan nyane kadi tetandingan sesantun/daksina.
TETANDINGAN BANTEN PANGLADAN DEDARI.
banten pangladan Dedari kewentenan nyane kalih soroh,inggih punika;sane asiki,medasar antuk Taledan medaging tumpeng kuning kalih bungkul,ulam nyane ayam putih syungan mapanggang,medaging malih Raka Woh-wohan sejangkep nyane,Sampyan Nagasari,Sasedep Tepung Tawar,Tatebus Benang kuning.
TETANDINGAN BANTEN SESAYUT KATUTUTAN
Mendasar antuk Aled Sesayut, Nasi klopokan asiki,tinumpangan nyuh masisir,Rerasmen genep,di samping nyane kaputan basan ubad,pamor akapitan,canang pahyasan,Penyeneng alit,Peras Alit,Sampyan Nagasari.
TETANDINGAN BANTEN SESAYUT TULUS DADI
Medasar Antuk Aled/Kulit Sesayut,Nasi penek Barak asiki,nasi Penek Selem asiki,ayam Biying mapanggang,Raka woh-wohan jangkep,sedah anut uriping dina,pagutan jinapit tunggal,penyeneng Alit,Peras Alit,Sampyan Nagasari,Canang Pahyasan,tetebus barak lan selem.
TETANDINGAN BANTEN SESAYUT TULUS HAYU
medasar Aled Sesayut/kulit sesayut,nasi putih kuning jinapit tunggal,ayam putih syungan pinanggang,raka Woh-wohan jangkep,Penyeneng alit,peras Alit,sampyan Nagasari,Canang Pahyasan,Tetebus putih kuning.
TETANDINGAN BANTEN SESAYUT PAMAHAYU TUWUH
Medasar antuk Aled Sesayut/Kulit sesayut,medaging nasi penek asiki,kaapit antuk tumpeng tri Warna,(putih,barak,selem),maulam ayam saules nyane(ayam srawah),pinanggang.
TETANDINGAN NASI WONG-WONGAN
Matatkan antuk tetempeh susunin daun byah-byah.nasi wong-wongan sirah nyane mawarna selem,tangkah lan tangan nyane mawarna putih,weteng nyane mawarna brumbun,bokongan saha paha mewarna barak,batis nyane mawarna kuning,medaging porosan antuk don byah-byah,awu(abu) mawadah takir pinaka apuh,buah beluluk atakir.
B. UPAKARA RARE WAWU EMBAS (BANTEN BAYI BARU LAHIR)
1. Banten Dapetan asoroh.
2. Banten Muncuk Kuskusan,medasar antuk taledan medaging nasi muncuk kuskuan,Raka Woh=wohan dena genep,Rerasmen,sampyan jeet Guwak,penyeneng Alit,canang Sari atanding.
C. UPAKARA NANEM ARI-ARI
Nasi Kepelan papat tanding/kepel,madaging ulam bawang jahe,uyah areng,sekancan Miyik-miyikan,Canang Lengawangi Burutwangi.
- GENAH ARI-ARI
Genah ari-arine mewadah nyuh masurat Ongkara-mrtha medaging lontar acengkang masurat:
D. UPAKARA RARE KEPUS PUSER
1. Banten Panelahan
2. Banten Kumara alit
3. Banten Labaan sang Ibu
4. Banten ring Ari-ari
5. Banten tataban sang rare
6. Banten prayascitta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar