Jumat, 05 Juni 2009

ETIKA.

ESTETIKA HINDU DAN PEMBANGUNAN BALI

1.) ESTETIKA DAN KEBUDAYAAN BALI

Estetika berasal darii kata yunani"aestheis" yang berarti penerapan,persepsi,pengalaman,perasaan,pemandangan.

kata ini untuk pertama kali dipakai oleh Baumgarten untuk menunjukkan cabang filsafat yanng berurusan dengan seni dan keindahan(Hartoko,1983:15).Ini karena keindahan hubungan erat dengan lidah dan selera perasaan atau apa yang disebut dalam bahasa jerman"Geschmarch".

Estetika sebagai salah satu cabang filsafat sejak zaman yunani kuno sampai sekitar pertengahan abad XVIII disebut dangan berbagai nama yaitu filsafat keindahan,filsafat cita rasa,filsafat seni,dan filsafat kritik.istilah filsafat dalam bahasa inggris disebut dengan"Theory" sehingga estetika disebut disebut juga teory keindahan,teory cita rasa,teory seni murni.dengan demikian,estetika dapat disebut juga ilmu tentang hal yang indah,ilmu tentang keindahan(pramono,1982:21).

Istilah estetika sebagai ilmu tentang seni pertama kali diperkenalkan oleh alexander gottleb baumgarten dengan mengikuti pendapat filsuf Leibniz yang membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan indrawi.pengetahuan intelektuaal itu disebut pengetahuan tegas, sedangkan pengetahuan indrawi di anggap sebagai pengetahuan kabur. baumgarten merumuskan bahwa tujuan dari segenap pengetahuan adalah keindahan. ilmu tentang pengetahuan indrawi disebut dengan istilah aesthetica. jadi bagi baumgarten aesthetica merupakan indrawi yang tujuannya adalah keindahan.Tujuan dari keindahan itu adalah untuk menyenangkan dan menimbulkan keinginan.

Seni berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata sani yang berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaaan atau pencarian dengan hormat dan jujur. akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa seni berasal dari bahasa belanda Genie atau genius.dengan kata lain seni merupakan kebalikan dari alam, yaitu hasil dari campurtangan dan pengolahan budi manusia secara tekun mengubah benda2 alamiah, baik bagi kepentingan rohanui maupun jasmani.

Karena berkesenian adalah salah satu ekspresi proses kebudayaan maka ia terkait dengan "pandangan jagad atau dunia" orang-orang dari kebudayaa itu. pandangan dunia tempat orang-orang mengartikan hidup, mengambil nilai, dan mencari dasar untuk terus bisa hidup mencakup pula endapan-endapan mengenai apa yang indah, apa yang baik, dan apa yang benar.

bali telah terkenal dengan kebudayaanya karena keunikan, kekhasannya yang tumbuh dari jiwa agama hindu, yang tidak dapat dipisahkan dari keseniannnyaa dalam masyarakat yang berciri sosial religius.

2.) SIWA NATARAJA : SIMBOL, FILSAFAT, & SIGNIFIKANSINYA DALAM KESENIAN BALI.

A). KESENIAN DALAM HINDU

kesenian didalam perspektif hindu memepunyai kedudukan yang sangat mendasar. kehidupan religi hindu tak bisa dilepaskan dari kesenian. upacara yajna ditempat-tempat suci (pura atau mandir)n tidak bisa dilepaskan dari seni, seperti seni suara, seni tari, karawitan, seni lukis dan satra. tempat-tempat pemuajaan seperti pura, candi, mandir, dan sebagainya dibangun dan ditata dengan sangat indah nya sebagai ungkapan estetika, etika dan religiusitas penganutnya.dengan keterlibatan seni, upacara yajna menjadi kelihatan meriah dan khidna. para penari (pragina) dalam semangat ngayah mempersembahkan kesenian tersebut sebagai wujud bakti. mereka ,mempersembahkan seni itu kehadapan tuhan sebagai persembahan (yajna). didalam nya ada rasa bakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduannya ingin bertemu dengan sumber seni itu, Siwa. ia ingin sekali menjadi satu dengan seni itu karena sesungguhnya tiap-tiap insan didunia pada intinya adalah percikan sumber seni. Siwa Nataraja bersemayam pada setiap insan.

B). Siwa Nataraja : Simbol

Eksistensi simbol-simbol sebagai ungkapan religiusitas, estetika, etika, dan filsafat sangat kental dalam masyarakat hindu. bagi masyrakat hindu diindia, Siwa Nataraja sangat populer abik sebagai konsep kesenian maupun sebagai ikonografi. bagi masyarakat hindu diindonesia(bali) kiranya konsep Siwa Nataraja yaitu Siwa sebagai penari kosmis tidak hanya perlu diketahui, tetapi di dalami landasan filsafat yang terkandung didalamnya dalam konteks kesenian bali.

M.ARUNACHALAM mengatakan Siwa Nataraja adalah bentuk visual filsafat Siwa Siddhanta. konsep-konsep abstrak didalam sistem Siwa Siddhanta di konkretkan dalam wujud Siwa nataraja. vina Siwa Nataraja artinya Siwa sebagai penguasa penari kosmiss didalam fungsi menciptakan dunia dengan segala isinya dan memberikan kesempatan kepada jiwa-jiwa untuk bersatu dengan Siwa. Nretya atau Tandawa merupakan gerakan sakral dan tak terpisahkan dari anggota-anggota tubuh sesuai dengan bhawa yang ada didalam diri. didalam Nretya ada 6 bhaw yaitu srsti, samhara, widya, awidya, gati, dan agati. gambara atau patung Siwa dalam wujud sedang menari sangat populer dikuil-kuil, gua-gua diindia khususnya didaerah tamil, india selatan.

Siwa dalam benttuk Siwa nataraja adalah Siwa dalam postur sedang menari. gerakan nya sangat indah, ritmis dan eksotikmistic yang menggetarkan siapa saja yang melihatnya. gerakan dan ritmiknya sangat harmonis dan melahirkan keindahan. tarian Siwa Nataraja mempunyai bentuk-bentuk sebagai berikut :

- Siwa bertangan empat dengan rambut dikepang dan berpermata serta jalinan rambut disebelah bawah ikut bergerak saat Siwa manari.

- dimahkota rambutnya terddapat ular cobra, tengkorak manusia, dewi gangga, diatasnta bulan sabit, dan dimahkotanya ada daun-daun cassia.

- pada telinga kanannya ia mengenakan hiasan anting-anting laki-laki dan pada telinga kirinya anting-anting wanita.

- dilehernya dihiasi kalung.

- dilengannya dihiasi dengan gelang, di pinggangnya dihiasi dengan sabuk permata, hiasan lutut, gelang tangan, jari-jari, dan ibu jari kaki.

- bagian utama pakaiannya terdiri atas celana hingga lutut dengan potonga ketat, mengenakan syal dan benang suci.

- satu tangan kanannya (belakang) memegang sebuah gendang, yang lainnya (kiri belakang) memegang api, tangan (kanan depan) dalam posisi terangkat dan dalam posisi tidak menakutkan (posisi abhaya), tangan lainnya (kiri depan) menunjuk ke arah bawah dalam posisi dola atau gaja - hasta menunjuk keujung jari yang terangkat ke atas menuju raksasa muya kala (apsmarapurusa, perwujudan kejahatan), yaitu seorang raksasa cebol memegang kobra serta kaki kiri dingkat setengah lutut.

- terdapat alas berbentuk bunga padma tempat melingkar prabawa di batasi oleh nyala api dan disentuh oleh tangan-tanganya yang memegang gendang dan api.

Tiap-tiap unsur tersebut diatas mempunyai makna yang dalam.

C). Siwa Nataraja : Panca Aksara

Simbol-simbol yang tersirat dalam talian kosmis Siwa dapat dijelaskan sebagai berikut :

- Suara gendang (damaru) mengundang roh-roh individu mendekati kakinya. genndang mencerminkan Omkara.

- posisi tangan (kanan depan) yang memeprlihatkan abhaya mudra memberikan proteksi kepada seluruh makhluk hidup yang mencari perlindungannya.

- penghancuran mulai dari api yang mengitari prabhaya (tiruvasi).

- kaki kiri yang diangkat (nengkleng) mengindikasikan maya (ilusi).

- tangan yang menunjukkan arah bawah (kiri depan) memperlihatkan bahwa kakinya meerupakan tempat pertolongan roh-roh individu.

- kijang ditangan Siwa menyimbolkan asuddha ma-ya.

- kapak pengetahuan yang dapat menghancurkan kegelapan dan kebodohan.

Kendang (damaru, lengan terbentang yang membawa api,air(gangga)),tangan dengan kapak,kaki berdiri diatas Asura Muyalaka merupakan suksma pancha asura(Na Ma Si Wa Ya).Ya mencerminkan jiwa atau roh individu.panca Aksara membentuk tubuh Siwa.Tangan yang memegang api adalah Na.kaki yang menindih rakssa adalah Ma.Tangan yang memegang kendang adalah Si.tangan kiri dan kanan yang bergerak Wa.tangan yang memperlihatkan abhaya mudra adalah Ya.

D). Evolusi_Involusi

Siwa siddhanta mengakui tri padaartha,yaitu Tuhan (pati),jiwa-jiwa terikat (pasu),dan belenggu (pasa).Ketiganya saling idenpenden.namun pasu dan pasa berada dibawah pati.pati disebut siwa.pati sebagai penyebab efisien.sakti sebagai penyebab instrumental,dan maya sebagai penyebab material (upadana karana).

Siwa tak terbatas,eternal,tunggal,tak pernah berubah,dan tk bisa dibagi.Ia bertubuh pengetahuan dan kebahagiaan.Ia menggerakkan semua jiwa.Ia berada diluar jangkauan pikiran dan ujaran.Ia merupakan tujuan semua jiwa.Ia terkecil dari yang terkecil dan terbesar dari yag terbesar.Ia adalah pusat kebajikan dan kebijaksanaan.ia adalah sinar dari sinar-sinar.ia adalah Paramjyoti atau Sinar Tertinggi.Ia menyinari dirinya sendiri atau Svayam-Jyoti.Ia adalah sumber segala yang ada dan tempat semua yang ada akan kembali.

Tarian Siwa menyimbolkan ritme dan pergerakan dunia spirit.pada tariannya semua kekuatan jahat dan kegelapan menjadi sirna.Tujuan Siwa menari adalah untuk kesejahteraan dan kerahayuan alam semesta;membeskan roh-roh dari belenggu (mala),ari tiga ikatan,yaitu, Anwa, Karma, Maya.Siwa bukanlah penghancur,melainkan regenerator.Ia adalah mangala data,pemberi kesucian dan Ananda Data,pemberi kebahagiaan.ia memberi anugerah (anugraha) dengan cepat sekalipun sedikit melakukan tapa atau sedikit mengucapkan Panca Aksara (Na Ma Si Wa Ya).

Ketika ketiga Guna,yaitu Satwam,Rajas,Tamas ada dalam keadaan seimbang (guna samya avastha) diganggu oleh keinginan Tuhan,lalu guna-guna tersebut bermanifestasi dan elemen-elemen mengada dalam jumlah lima kali lebih besar.Terdapat vibrasi Omkara atau Sabda Brahman.ada manifestasi energi utama.inilah tarian Siwa.semua pergerakan didalam kosmos adalah tarian Siwa.Ia menjadikan prakrti bergerak dan berenergi.Pikiran,prana,zat mulai menari.Dalam malam Brahma atau selama pralaya,prakrti bersifat diam,tak bergerak.Ia tidak dapat menari sebelum dimulai oleh keinginan Siwa.Siwa bangkit dari diamnya yang mendalam.Ketika Siwa mulai menari,Sakti Tattwa mulai memanifestasi. Dari Sakti, Nada menyusul, dan dari Nada, Bindu mengada. Dari Bindu segala bentuk dan rupa berawal,terproyeksikan.Semua penjuru ,atom,dan electron juga menari secara ritmis dan dalam tatanan yang teratur.Atom-atom menari dalam molekul-molekul dan molekul-molekul menari dalam tubuh-tubuh.Bintang-bintang menari dalam ruang dan waktu.prakrti juga mulai menari menarikan kemegahan atau Wibhuti-nya.Prana mulai menjalankan Akasa.Berbagai bentuk juga bermanifestasi.Belenggu(pasa) menyebabkan adanya kerja (karma).Melalui penciptan dunia,roh-roh berkesempatan menikmati pengalaman-pengalaman, baik yang menyenangkan maupun menyebabkan penderitaan.Demikian pula,pembebasan (moksa) bisa dicapai melalui kesempatan hidup.ketika saatnya tiba Siwa menghancurkan semua nama dan rupa dengan api ketika ia sedang menari.

Pasa adalah belenggu.ia membelenggu jiwa.Belenggu dibedakan menjadi Awidya atau Anawamala,karma,dan Maya.Anawamala ,adalah ego.Karma meupakan penyebab tubuh mengalami kelahiran dan kematian.Maya merevolusi menjadi prinsip-prinsip halus dan kemudian kasar.

E.) Sadhana

Dalam Siwa Siddhana terdapat empat jalan atau disiplin yang dianjurkan jika ingin bersatu dengan Siva.Keempat jalan tersebut adalah:

a. Chariya.

b. Kriya.

c. Yoga.

d. Jnana.

Jalan-jalan ini merupakan langkah-langkah untuk membunuh egoisme dan mencapai Siwa.

Mempersembahkan tarian-tarian merupakan salah satu sadhana yang mencangkup keempat aspek tersebut.membangun pura,membersihkan tempat suci,mempersembahkan kembang,air,susu,api,kain untuk hiasan pelinggih tergolong Chariya,Kriya adalah aktivitas melakukan puja,arcane. Yoga adalah pengendalian indra dan pikiran agar mendapatkan pikiran yang tenang dan terkonsentrasi.

F.) Signifikasinya Dalam kesenian Bali.

Secara konseptual Siwa Nataraja sebagai wujud nyata filsafat Siwa Siddhanta telah diterapkan dalam aktivitas keagamaan di bali yang selanjutnya mengalir menjadi bentuk-bentuk kesenian. Sulinggih dalam muput yajna adalah perwujudan Siwa. Beliau adalah guru yang mengajarkan pengetahuan (sastra) kepada sisya-nya. Dalam prosesi upacara yajna, (pendeta) menggunakan gerakan-gerakan tangan tertentu yang disebut mudra yang diyakini mengandung nilai estetika,filsafat,dan mistik yang tertinggi. Gerakan-gerakan tangan ini selanjutnya berkembang menjadi gerakan-gerakan anggota tubuh penari didalam membawakan suatu tarian. Gerakan-gerakan Siwa Nataraja selanjutnya dapat dilacak dalam gerakan-gerakan tari yang demikian banyak jenis dan jumlahnya,misalnya dengan gerak tangan (mudra),kaki,tubuh,leher,kepala,mata,bibir,dan sebagainya.

Siwa sebagai Dewa Kesenian atau asal mula kesenian tidak asing bagi kesenian Bali. Dalam lontar-lontar memuat seperti lontar kala purana,Japa/Cepu kala,kidung,Sang empu lager,kala tattwa,kekawin sang Hyang Kala.

Melihat kenyataan ini,maka aktivitas berkesenian sesungguhnya adalah menarikan,mengepresikan Siwa sebagai Nataraja yang ada pada tiap-tiap penari. Didalam diri setiap penari tertanam bahwa Siwa sedang menari dan ia menari bersama beliau dalam suasana suci,bhakti,dan extcasy. Sumber-sumber Nusantara kiranya masih banyak yang membahas Siwa sebagai sumber dan tujuan aktivitas kesenian.

DAFTAR PUSTAKA

Annamalai University.1965.Collected Lectures on Saiva

Siddhanta 1946 1954 Annamalainagar

Arunnachalam,M.1978.Outlines of Saivism.Mayuram:Gandhi Vidyalayam.

Benerjea,Jitendra Nath.2002.The Development Of Hindu

Iconography.Delhi:Munshiram Manoharlal.

Bhandarkar,R.G.2001.Vaisnavism,Saivism,and Minor

Religious System.Delhi:Munshiram Manoharlal.

Biswal,Bansidhar.1998.Cult of Siva.calcutta:Punthi Pustak.

Chitgopekar,Nilima.1998.Encountering Sivaism:The Deity,

The Milieu,the Entourage.Delhi:Munshiram Manoharlal.

Coomaraswamy,Ananda.1999.The Dance of Shiva.Delhi:

Munshiram Manoharlal.

Dasgupta,Surendranath.2000.A History of Indian

Philosophy.Vol.V.Delhi:Motilal Banarsidass.

Devasenapathi,V.A.1974.Saiva Siddahanta As Expounded

In the sivajnan-siddhiyar and Its Six Commentaries.

Madras:University of Madras.

Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.2002.Dokumentasi tari-tari

Tradisional Bali.denpasar.

Jelantik S.P.,I.B.P.Suamba.”Ida Wayan Granoka:

Seni Sebagai Ritus”dalam cintamani No.06/Th.I/Juni 2002.

Kantor Dokumentasi budaya bali.2000.Gerak-Gerak Tari Bali.Denpasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar