Jumat, 05 Juni 2009

Tatwa

Psikologi Agama

Seimbangkan Pikiran, Jiwa, dan Raga.

1). Ruang Lingkup Psikologi Agama.

a). Pengertian Psikologi dan Agama

pada pengkajian Psikologi agama ada 2 kata yang memiliki makna masing-masing yaitu kata "psikologi"dan "agama".

Kata psikologi digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia,dengan tujuan utamanya adalah mengungkapkan faktor-faktor yang berpengaruh pada perilaku (persepsi) manusia. Psikologi tidak hanya berhadapan dengan individu,tetapi seringkali juga dengan sekumpulan individu (tim olah raga, keluarga,, suku, partai politik, masa, dan sebagainya).

Agama memegang peranan penting dalam kehidupan manusia . manusia membutuhkan agama untuk memenuhi kebutuhan rohani serta mendapat ketenangan dalam hidupnya. Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan serta segala sesuatu yang terkait dengan anjuran-Nya atau petunjuk-Nya,sehingga dapat memberikan rasa aman dan memiliki ketetapan hati dalam menghadapi hidup.

Sesuai dengan pendapat Formm(1988) yang menyatakan dengan sikap berserah diri kepada sang Pencipta dengan sepenuhnya,dengan cara menanggalkan kebebasan dan integritas dirinya sebagai seorang individu serta dengan rela mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan akan membuat individu memperoleh perasaan terlindungi oleh suatu kekuatan yang mengagumkan,yang menjaikan diinya bagian dari kekuatan itu,yaitu kekuasaan Tuhan Yang maha Esa. Rasa ketergantungan,ketidakberdayaan dan keyakinan terhadap kekuatan sang pencipta akan menimbulkan sikap optimis terhadap segala sesuatu.

2.) Kedudukan Psikologi Agama.

Banyak ahli psikologi mengungkapkan tentang dimensi religiusitas. Diantara Glock dan slark (dalam Rakhmat,2003),aspek-aspek itu meliputi:

a. Religious belief, yaitu suatu tingkatan sampai sejauh mana individu menerima hal-hal yang dogmatic dalam ajaran agama yang dianut.

b. Religious practice, yaitu suatu tingkatan dimana individu dipertanyakan seberapa jauh individu mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual yang telah ditetapkan oleh agama.

c. Religious feeling, yaitu suatu pengalaman beragama,perasaan-perasaan,persepsi,dan sensasi-sensasi yang dialami individu ketika berkomunikasi dengan sang pencipta.

d. Religious knowledge, yaitu sisi pengetahuan individu terhadap agamanya terutama aktifitas dalam mencari pengetahuan itu sendiri.

e. Religious effect, yaitu konsekuensi individu terhadap ajaran agamanya dan terwujud dalam perilaku dengan sesame manusia.

Psikologi Agama adalah cabang psikologi yang menyelidiki sebab-sebab dan ciri psikologi dan sikap-sikap yang religious atau perjalanan religius dan berbagai fenomena dalam individu yang muncul dari atau menyertai sikap dan pengalaman tersebut.

Psikologi Agama mempelajari motif-motif,tanggapan-tanggapan,realisi-realisi dari psikis manusia,pengalaman dalam berkomunikasi dengan supranatural. Aspek psikologi dari perilaku beragama berupa pengalaman religius baik secara individu (aspek individu-psikologi) maupun secara berkelompok/anggota-anggota dari suatu kelompok (aspek sisio-psikologis),seperti berikut:

a. Ketika seseorang berada dalam puncak spiritual pada berdoa/bersembahyang sambil mengucapkan doa atau japa mantra.

b. Ketika seseorang mendengarkan wahyu (mendengarkan suara hati).

c. Ketika menjalani masa liminalitas yaitu masa yang tidak menentu,kacau,ambigu,menghadapi cobaan (kematiaan,kehilangan harta) seorang ibu akan melahirkan,perkawinan beda agama dan lain-lain.

Psikoligi Agama sebagai cabang dari psikologi menyelidiki agama sebagai gejala kejiwaan,mengingat persoalaan agama yang paling mendasar adalah persoalaan kejiwaan. Manusia menjalani dan mau berserah diri pada Tuhan, melakukan upacara keagamaan,berdoa, rela berkorban dan rela kehidupannya dikendalikan oleh norma-norma agama adalah masalah kejiwaan. Sehingga dapat ditemukannya benang merah dari psikologi dan agama yaitu, sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu agar jiwa manusia sehat dan cerdas,sebagai dasar untuk menuju hidup sejahtera,bahagia,damai lahir batin.

3.) Kajian Psikologi Agama

Paul E Johnson (1959) secara rinci mengemukakan focus kajian psikologi agama meliputi aspek kejiwaan yang meliputi:

a. pengalaman beragama, yaitu kondisi jiwa (pikiran,perasaan,emosi) ketika berdoa,beribadah dan melaksanakan upacara-upacara agama,melakukan meditasi,yoga atau Tapa Bhrata.

b. Pertumbuhan agama, kondisi jiwa keagamaan pada masa kanak-kanak,remaja,dan dewasa.

c. Konvensi agama, yaitu faktor-faktor kejiwaan seseorang saat memutuskan untuk pindah agama,kondisi kejiwaan (sikapnya terhadap agama yang baru),krisis dan konflik saat menghadapi perbedaan,pertentangan dan keberlangsungan.

d. Bagaimana keadaan jiwa seseorang menyikapi perubahan-perubahan yang dihadapi baik secara evolusi maupun evolusi.

e. Upacara-upacara keagamaan.

f. Kondisi jiwa orang yang beriman dan orang yang ragu-ragu.

g. Perilaku beragama,misalnya apakah seseorang itu beragam secara intrinsic atau ekstrinsik, atau atas kesadaran lahiriah atau kesadaran spiritual.

h. Agama dan kesehatan jiwa yang meliputi kondisi jiwa pada umumnya,factor ekonomi,penyembuhan spiritual dan terapi agama.

i. Panggilan beragama.

j. Komunitas beragama.

4.) Kedudukan Agama Dalam Psikologi.

Melalui konsep-konsep ajaran agama diharapkan perilaku manusia dapat berfungsi optimal bagi kehidupan manusia yaitu dapat menimbulkan perilau positif,seperti pelestarian lingkungan,perlindungan hak asasi manusia dan pengurangan kemiskinan,serta mencegah perilaku negative,seperti kejahatan,kekerasan,penyelewengan dan terorisme.

Sebagai sarana penyesuaian diri (coping) agama dapat memberi hasil,baik positif maupun negative pada individu. Hasil yang positif antara lain:

a. secara psikologi memberi makna hidup,memperjelas tujuan hidup,dan memberikan perasaan bahagia karena hidup sebagai manusia berarti (mulya).

b. Secara sosiolagi menjadikan lebih intim,dekat dan akrab dengan keluarga,kelompok dan masyarakat dan hal ini menimbulkan perasaan terlindungi dan saling memiliki.

c. Menemukan identitas diri,menemukan kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan diri dalam usahanya mencapai Tuhan.

Sebaiknya hasil yang negative adalah: depresi,kehilangan kepercayaan diri,agresif,atau mengembangkan halusinasi atau delusi mengenai agama.

Jadi dalam psikologi agama tujuan akhir dari perilaku manusia (dalam kacamata psikologi) adalah penyesuaian diri yang optimal terhadap lingkungannya (alam,social,norma-norma,dan nilai-nilai)dengan cirri-ciri sebagai berikut:

a. Adanya .perasaan puas.

b. Bahagia,tenang.

c. Tidak terlalu banyak stress akibat konflik-konflik batin yang tidak teratasi.

d. Tidak berprilaku destruktif atau agresif baik yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

5.) Beberapa Penelitian dan Tenerapan Psikologi dalam Agama Menurut sarwono (1999).

Penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan obat di kalangan orang yang sangat religius ternyata lebih rendah daripada dikalangan orang non-religius. Orang yang religius telah terbiasa untuk menerima norma-norma yang anti-penyalahgunaan obat,bergaul dengan teman-teman sebaya yang anti-penyalahgunaan obat,dan mempunyai mekanisme untuk memuaskan kebutuhan dan kontak sosialnya,dan mempunyai makna dalam hidup. Akan tetapi, hubungan yang positif ini hanya ada padapraktikagama yang penuh kasih saying dan membangkitkan semangat, bukan yang serba melarang, negative, dan ritual belaka (Gorsuch, 1995).

Walaupun agama-agama besar di dunia rata-rata menganjurkan toleransi dan kasih saying kepada orang lain, bukti-bukti empiris menunjukan bahwaumumnyapada tingkat yang masih sederhana agama justru berkorelasipositif dengan prasangka. hubungan ini tidak kurvilinear (tinggi pada Yng keyakinannya sedang-sedang saja), tetapi rendah baik pada yang disebabkan oleh ajaran-ajaran intrinsic dan eksrinsik dari agama itu. Hal ini disebabkan oleh adanya kepemimipinan otoriter sayap kanan dari agama yang bersangkutan yang menyebabkan adanyainterprestasiyang fundamentalis dari agama tersebut. Semakin fundamentalis (true believers), semakin yakin pada ajaran agama, justru semakin berprasangka dan tidak toleran (walaupun agama itu sendiri mengajarkan toleransi). Disimpulkan bahwa bukan agama itu sendiri yang menyebabkan prasangka, melainkan bagaimana orang memperlakukan kepercayaan terhadap agama. Itulah yang menyebabkan timbulnya prasangka ( Hunsberger, 1995).

Penelitian terhadap 200 mahasiswa Hindu dan 200 mahasiswa Muslim (masing-masing terdiri atas mahasiswa dan 100 mahasisiwi) di Universitas Bhagalpur, India. Hasilnya, mahasiswa Hindu mempunyai n-Ach (need for achievement), otonomi, dan endurance (dalam skala EPPS) yang lebih tinggi daripada mahasiswa Muslim. Sebaliknya, mahasiswa Muslim menunjukan skor yang lebih tinggi pada deference, orderliness, affiliation, dan heteroseks. Penyebabnya, menurut peneliti adalah bahwa mahasiswa Muslim mempunyai Tuhan yang tunggal, tata perilaku dan cara-cara beribadah yang sudah tetap dan pasti, sementara mahasiswa Hindu diperbolehkan oleh agamanya untuk lebih individual : boleh mempunyai Tuhan masing-masing dan caraberibadah sendiri (Ojha & Jha, 1991).

DAFTAR PUSTAKA

Adnyani dan Koentjoro.(2004).Peran Ayah Menuju Coparenting.

CV. Citra Media.Wage Taman sepanjang.

Agus, Nggermanto.(2002).Quantum Quotien.Kecerdasan

Quantum.Yayasan Nuansa Cendika.Bandung.

Agus,Suyanto,.(1986).Psikologi Kepribadian.aksara Baru Jakarta.

Ahmad Millah Hasan (2006) Rozy Munir Dalam Liputan Media

IPADI.Ciputat.

Altman,I.Taylor,D.A.(1975).Social Penetration : The Development

Of interpersonal Relationship.Holt,Rinehart and Winston Inc.Sydney.

Anomin.(2007).Mengelola Kebhinekaan Menjadi Sinergi Buku

panduan dan kumpulan Abstrak.Himpunan psikologi Indonesia.

Ary Ginanjar.A.(2006) ESQ.Emotional Spritual Quetion.Arga Jakarta.

Astawa.(1993).Suara Kaum Muda Hindu.Yayasan Dharma Nusantara.Jakarata.

Bagus,I.G.N.(1995).Amanat Bhagawadgita (Swami Prabhavananda).Penyunting.

Upada Sastra.Denpasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar